Portal Akemena – Kapal selam menjadi aset militer yang krusial di Asia Tenggara, terutama di tengah ketegangan di Laut China Selatan dan Indo-Pasifik. Lima negara anggota ASEAN, yaitu Singapura, Vietnam, Indonesia, Malaysia, dan Myanmar, saat ini mengoperasikan kapal selam aktif. Berbeda dengan kapal perang permukaan yang lebih mudah terdeteksi, kapal selam dapat beroperasi secara rahasia untuk mengumpulkan intelijen dan melakukan serangan mendadak.
Dalam hal ini, Singapura memiliki Invincible Class (Type 218SG) yang diakui sebagai kapal selam tercanggih di kawasan. Kapal ini diproduksi oleh ThyssenKrupp Marine Systems dari Jerman, dengan harga berkisar antara USD500 hingga USD700 juta per unit. Memiliki panjang 70 meter dan kemampuan untuk beroperasi di bawah air selama 50 persen lebih lama dibandingkan kapal selam diesel konvensional, Type 218SG dilengkapi dengan sistem AIP yang meningkatkan daya silumannya.
Sementara itu, Vietnam juga memiliki kapal selam modern bernama Kilo Class Project 636.1 yang diproduksi oleh Rubin Design Bureau, Rusia. Kapal ini memiliki panjang 73,8 meter dan mampu menyelam hingga kedalaman 300 meter dengan kecepatan maksimum sekitar 20 knot. Program enam unit kapal selam ini diperkirakan menelan biaya antara USD2,1 hingga USD3,2 miliar.
Perlombaan untuk memperkuat kekuatan armada laut di kawasan ini menunjukkan bahwa kapal selam tidak hanya sebagai alat pertahanan, tetapi juga sebagai sarana untuk meningkatkan posisi strategis negara-negara di ASEAN. Keunggulan teknologi dan kemampuan operasional yang dimiliki oleh kapal selam-kapal selam ini menandakan pentingnya investasi dalam modernisasi angkatan laut mereka.