Portal Akemena – Serangan terhadap Islamic Center di San Diego baru-baru ini menimbulkan keprihatinan besar, setelah dua remaja, Cain Clark (17) dan Caleb Vazquez (18), melakukan aksi mematikan yang mengakibatkan tiga kematian, termasuk seorang petugas keamanan, Amin Abdullah. Peristiwa ini kembali mengangkat isu ekstremisme kanan yang semakin marak.
Menurut laporan, saat penyerangan berlangsung, petugas keamanan berupaya melindungi 140 anak dengan mengarahkan pelaku keluar menggunakan tembakan peringatan. Malangnya, para pelaku akhirnya menembak diri mereka sendiri setelah melakukan aksi brutal tersebut. Sebuah dokumen berisi 74 halaman ditemukan, menunjukkan pengaruh ideologi ekstremis, termasuk kekhawatiran tentang apa yang mereka sebut “penggantian” oleh populasi lain, mirip dengan ideologi yang dianut pelaku penembakan di Christchurch, Selandia Baru.
Para peneliti menyatakan bahwa pola penyerangan serupa, seperti menciptakan konten yang mendorong penyerangan berulang, mulai terlihat di kalangan remaja. Katherine Keneally, direktur analisis ancaman di Institut untuk Dialog Strategis, menjelaskan adanya obsesi untuk meniru serangan dengan jumlah korban paling tinggi, yang menunjukkan adanya “gamification” pada tindakan kekerasan.
Berdasarkan laporan, serangan ini bukan hanya satu kejadian isolasi, melainkan bagian dari meningkatnya ancaman dan kejahatan kebencian, terutama terhadap komunitas Muslim dan Yahudi, yang telah meningkat sejak konflik di Timur Tengah. Keneally menekankan pentingnya memahami latar belakang dan pengaruh media sosial terhadap perilaku ekstremis di kalangan remaja.
Di sisi lain, Abdullah sebagai petugas keamanan merasa terinspirasi untuk melindungi komunitasnya dari retorika kebencian yang meningkat. Temannya, Khalid Alexander, menyebut sebagai reaksi dari kekhawatiran akan ancaman yang dihadapi oleh komunitas muslim di tengah iklim sosial yang kian memburuk.