Revolusi AI Agentik Mengubah Tim Amazon dan Tradisi Perusahaan

Portal Akemena – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) terus menciptakan inovasi dalam cara kerja berbagai perusahaan besar, termasuk Amazon. Dalam sebuah pernyataan, Swami Sivasubramanian, Wakil Presiden Amazon Web Services (AWS) untuk AI agentic, menjelaskan bahwa perusahaan telah mulai mengubah pendekatan pengembangan produk, dengan memanfaatkan alat-alat pengkodean baru untuk mempercepat proses penciptaan prototipe. Pendekatan unik ini tampak semakin relevan dalam industri yang semakin didominasi oleh AI.

Transformasi dalam Proses Kerja di Amazon

Dalam dunia bisnis yang kompetitif, Amazon dikenal dengan pendekatan “kerja mundur” yang inovatif. Pendekatan ini mengawali proses dengan memahami masalah pelanggan, membayangkan solusi, dan menyusun dokumen yang relevan sebelum merilis produk. Namun, sejak tahun lalu, Sivasubramanian menyadari bahwa alat coding yang baru justru membuat pembuatan demo perangkat lunak lebih mudah daripada menyempurnakan dokumen resmi yang biasa mereka buat.

Dia mulai mendorong timnya untuk fokus pada pembuatan prototipe terlebih dahulu, sebelum kembali menulis dokumen resmi. “Jika ini merupakan taruhan dengan risiko rendah yang hanya ingin membuktikan intuisi kita, maka mari kita buat demo terlebih dahulu dan kemudian iterasi,” ujarnya. Ini menunjukkan bagaimana alat-alat agentic dapat mengubah praktik kerja yang sudah lama ada.

Pergeseran Ke Tim yang Lebih Kecil

Divisi AI agentic di AWS kini diorganisir menjadi banyak tim kecil, masing-masing cukup untuk diberi makan dua pizza, sebuah prinsip organisasi yang diciptakan Amazon di awal masa berdirinya. Menurut Sivasubramanian, proyek-proyek yang sebelumnya memerlukan 30 hingga 40 orang kini bisa rampung dengan tim yang terdiri dari enam sampai delapan orang. Contohnya, aplikasi desktop Amazon Quick yang mengintegrasikan email, kalender, dan dokumen pengguna, dirancang oleh tim kecil dan sukses digunakan oleh 10.000 karyawan dalam jangka waktu singkat.

Berkat penggunaan teknologi AI, tim kecil ini mampu menyelesaikan proyek yang sebelumnya dianggap memakan waktu lama. Rata-rata, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan produk kini bisa dipangkas dari bertahun-tahun menjadi hanya dalam beberapa bulan.

Tantangan dan Pengelolaan Biaya AI

Seiring dengan inovasi, muncul pula tantangan dalam pengelolaan. Tim kini mulai memantau pengeluaran mereka untuk token AI, yang merupakan unit dasar interaksi dengan model AI. Sivasubramanian menilai bahwa pengeluaran untuk penggunaan alat-alat ini harus dikelola dengan baik, guna memastikan efisiensi di setiap langkah produksinya. Hingga saat ini, konsumsi biaya masih terbilang terkendali, tetapi dia memperkirakan bahwa dalam waktu dekat, perusahaan harus memiliki gambaran lengkap mengenai pengeluaran yang mencakup biaya AI yang bekerja bersama mereka.

Dengan pergeseran ini, juga ada perubahan dalam cara tim bekerja. Manajer produk kini banyak yang terlibat langsung dalam proses pengkodean, yang sebelumnya merupakan tanggung jawab eksklusif para insinyur. Ini menunjukkan evolusi dalam tanggung jawab dan penciptaan budaya kerja yang lebih kolaboratif.

Kesimpulan

Perubahan dalam proses kerja di Amazon mencerminkan tren lebih luas dalam industri teknologi, di mana tim kecil dan struktur organisasi datar semakin menjadi norma. Pendekatan baru ini memungkinkan Amazon untuk beradaptasi dengan cepat dalam era AI, menyelesaikan proyek dalam waktu yang lebih singkat, dan mengejar tujuan yang lebih besar dengan sumber daya yang lebih sedikit. Seluruh inovasi ini berpotensi merombak cara kerja di masa depan, membuat ruang bagi ide-ide baru dan efisiensi yang lebih tinggi dalam pengembangan produk.