Portal Akemena – Ketegangan di Senat mencapai puncaknya ketika para senator Republik menolak permohonan Presiden Donald Trump untuk dana sebesar $1,776 miliar. Dana ini direncanakan untuk mendukung para pelaku yang, menurut Trump, dituduh secara salah terkait insiden kerusuhan pada 6 Januari. Penolakan ini mencerminkan ketidakpuasan menonjol di kalangan anggota partai, yang merasa terbebani oleh tuntutan dan permintaan Trump yang meningkat.
Pihak Senat yang mayoritas didominasi oleh Republik memilih untuk tidak melanjutkan pembahasan anggaran yang sangat penting, yang seharusnya berfungsi untuk mendukung kebijakan imigrasi Trump hingga akhir masa jabatannya pada tahun 2029. Hal ini menandakan titik balik dalam hubungan antara presiden dan anggota partai, di mana banyak di antara mereka mempertimbangkan kembali kesetiaan politiknya terhadap Trump.
Pada pertemuan di Oval Office, ketika ditanya tentang kontrolnya atas Senat, Trump tampak acuh tak acuh dan mengaku tidak tahu. Ketidakpuasan ini semakin meruncing usai sejumlah kandidat yang didukung Trump menang dalam pemilihan pendahuluan, sementara beberapa anggota Kongres yang menolak mendukungnya mengalami kekalahan.
Selain itu, ada tanda-tanda ketidakpuasan dalam Ruang Komite House, di mana lawmaker Republik mulai melawan usulan tindakan militer Trump di Iran. Beberapa dari mereka bahkan memperkenalkan rancangan undang-undang untuk mencegah pendanaan dari pajak untuk anggaran yang diusulkan Trump.
Situasi ini menggambarkan bahwa meskipun Trump memiliki kekuatan di dalam partainya, ketidakpuasan yang berkembang bisa menjadi ancaman serius bagi kelangsungan kebijakannya di Kongres. Lawmaker yang menolak semakin mempertanyakan apakah mengakomodasi Trump akan menguntungkan mereka dalam jangka panjang.