Portal Akemena – Kesedihan akhir tahun ajaran menjadi fenomena yang dialami banyak anak saat sekolah berakhir. Momen ini, yang dikenal sebagai end-of-school-year blues, sering kali membuat anak merasa kehilangan dan cemas. Menurut Amanda Gummer, PhD, pakar perkembangan anak, beberapa faktor seperti kepribadian, pengalaman masa lalu, keterampilan sosial, dan lingkungan rumah turut berkontribusi terhadap perasaan tersebut.
Anak-anak yang memiliki kepekaan emosional tinggi atau yang sebelumnya mengalami ketidakstabilan cenderung lebih terikat dengan lingkungan sekolah. Pamela Mastrota, direktur eksekutif The Toy Foundation, menambahkan bahwa bagi anak-anak yang membutuhkan, sekolah merupakan tempat yang aman dan stabil. Kehilangan rutinitas ini dapat memicu kecemasan dan stres.
Untuk membantu anak menghadapi kesedihan ini, Gummer menyarankan orang tua untuk terlebih dahulu memvalidasi emosi mereka, menjelaskan bahwa perasaan sedih adalah hal yang normal. Mengajak anak berkomunikasi tentang perasaan mereka, baik melalui percakapan maupun aktivitas kreatif, juga disarankan. Selain itu, menjaga rutinitas harian dan memperlancar komunikasi dengan guru serta teman sekelas juga dapat membantu anak merasa lebih nyaman.
Orang tua perlu waspada jika anak mengalami kesedihan yang berkepanjangan, menarik diri dari aktivitas, atau menunjukkan perubahan pola makan dan tidur. Tanda-tanda ini bisa menjadi indikasi bahwa anak membutuhkan bantuan profesional. Menyadari dan mengatasi perasaan ini menjadi crucial agar anak dapat merayakan liburan musim panas dengan lebih bahagia.